Cerita Hijab

Senin malam, disela-sela menyaksikan pertandingan sepakbola antara timnas Indonesia melawan timnas Malaysia (saat jeda turun minum) saya mencoba meluangkan waktu untuk menulis diblog saya. Kali ini saya akan coba menceritakan pengalaman dari seorang sahabat saya, beliau seorang arsitek muda nan energik yang memutuskan untuk berhijab setelah mendapatkan cahaya terang dari sang kholiq, Sika Soraya orangnya.

Sahabat saya ini lahir dan dibesarkan di keluarga moderat, ngga terlalu religius sih, yah sekedar menjalankan kewajiban aja. Yang penting judulnya hablum minannas. Dari anggota keluarga intinya ngga ada satupun yang pakai jilbab. Kemana-kemana selalu pakai kebaya kemanapun dan dimanapun. Semasa sekolah beliau sering keluar masuk sekolah katholik, meskipun pada akhirnya masuk Al-Azhar (alhamdulillah kemajuan..heehe). Belajar ngaji sih sudah dari pre-school, tapi giliran diajarin iqra cuma buat main-mainan doang. Ketika smp diputuskan untuk memanggil guru ngaji, maksud orang tua biar lebih serius ngajinya. Tapi setiap waktunya belajar ngaji malah tidur, masyaAllah. Singkatnya ini orang baru bisa baca qur’an begitu menginjak bangku SMA.

Selama hidup dia mempunyai prinsip jalani aja yang wajib atau halal, tapi terkadang beliau suka juga dekat dengan yang kebalikannya, kalau kata beliau sih asal ngga menyakiti sesama. Dia  menikmati kehidupan itu dan berpikir ngga bakalan ada kejadian apa-apa dengan cara hidup seperti itu. Dengan berpikir toh Tuhan juga tau saya ga jahatin orang.. loh loh loh.

Sampai suatu hari akhirnya ada seseorang yang bilang “tau ga, kalau perempuan itu sejak dia haid kalau ga menutup aurat terhitung dosa.” Tapi itu anjuran di abaikan tuh sama si Sika. Beliau bercerita, dulu di tahun 2006 pernah mendapat teguran langsung dari cahaya terang benderang yang diyakininya sebagai “dia”. Ini cahaya sukses berhasil ngebuat arsitek cantik ini tobat, tapi hanya untuk beberapa saat aja alias taubat sambel (kata Sika). Dan dalam waktu yang lumayan lama sampai akhirnya kembali lagi deh, rusak lagi deh akhlaknya.

Dan kali ini beliau mendapat teguran yang jauh lebih hebat. Membuatnya bagaikan terjatuh kedalam sebuah jurang. Menghancurkan keluarga besarnya, terutama ibu dan ayahnya. Kalau sudah begini apapun yang dilakukan tidak akan merubah keadaan.  Nyesel, setengah mati, kalau bisa dilahirkan kembali aku mau, seru beliau. Sampai air mata orang tuanya tidak dapat keluar lagi. MasyaAllah.. Sampai akhirnya dia mendengar pak Mario Teguh berkata “Selalu tampilkan senyum, maka pada saat hati terluka, dengan sendirinya hati dapat mengikuti menjadi baik.”  Quote tadi sontak membangkitkan semangatnya, tapi kemudian lemah lagi saat tau “bila perempuan yang belum menikah melakukan dosa apapun, maka ayahnya ikut menanggung.”

Down, ditambah keluarga besar sudah sangat terluka. Rasanya seperti memperbaiki hal yang mustahil. Kemudian beberapa minggu sebelum Idul Fitri tahun ini, Sika melihat tweet salah satu sahabatnya yang mengomentari tentang jilbab teman lainnya yang lucu, alhasil seorang sika pun penasaran, dilihat juga dong.  Dari sinilah sika tanya banyak kepada sahabatnya ini tentang perhijaban. Hal tersebut ternyata membuatnya resah (dan gelisah, pada semut merah..lah lah). Ngga bisa tidur nyenyak berhari-hari, cuma karena mikirin jilbab.

Sampai akhirnya tanggal 23 agustus 2011, Sika memberanikan diri untuk memakai jilbab. Dan ada satu kejadian yang luar biasa setelah memutuskan untuk berjilbab, yaitu pada malam harinya tidur terasa sangat nyenyak. (Subhanallah ya😀 )

Hijab = Senyuman (terkait Quote Mario Teguh) Sekarang Sika berharap dengan tampilan seperti itu bisa selalu “ingat” dan ngga ada lagi celah untuk hal negatif. Buatnya hijab bukan hanya tampilan semata, tapi merupakan guardian angel bagi dirinya. Yang selalu menjaga setiap inch dari tingkah lakunya dan tingkah orang lain terhadapnya. KERENNNN

Yang terpenting menurutnya sekarang adalah dirinya jadi lebih tau mana orang yang hanya melihat penampilan fisik dan mana orang yang pentingin hati. Dan beliau bertekad di sisa waktunya dengan ngga negatif-negatifan dan berhijab, ngga menambah tanggungan dosa ayahnya. Karena menurutnya, ayahnya adalah orang terkeras sekaligus terlembut dari sekian banyak orang yang dikenalnya, dan baru disadarinya setelah berusia 25 tahun.

Itulah sepenggal pengalaman hidup sahabat saya mengenai perjuangan ibadahnya untuk berhijab demi lebih mendekatkan diri sama Allah. Semoga cerita yang coba saya tuliskan dapat dijadikan motivasi buat teman-teman muslimah sekalian yang mempunyai niat untuk berhijab, biar lebih mantep.

Narasumber: Riskia “Sika” Soraya

One thought on “Cerita Hijab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s